Penanganan Awal Diare Pada Anak

Selasa, 04 Januari 2022 292

Diare merupakan suatu kumpulan dari gejala infeksi pada saluran pencernaan yang dapat disebabkan oleh beberapa organisme seperti bakteri, virus, dan parasit. Diare ditandai dengan konsistensi feses yang cair dan frekuensi buang air besar ?3 kali dalam 24 jam. Menurut Kemenkes Indonesia, diare sebagian besar dialami oleh anak di bawah lima tahun (Kemenkes RI, 2011). Penyakit ini menjadi salah satu penyumbang angka kesakitan tertinggi di berbagai negara, khususnya di Negara berkembang dengan tingkat sanitasi yang masih tergolong kurang seperti Indonesia.

Diare pada anak di bawah lima tahun paling banyak disebabkan oleh infeksi rotavirus dan biasanya bersifat self limiting disease atau dapat sembuh dengan kekebalan imun sendiri. Rotavirus merupakan penyebab utama diare dengan dehidrasi berat pada anak dibawah 5 tahun di seluruh dunia. Melihat fakta bahwa diare menjadi salah satu penyakit yang sering dialami oleh balita di Indonesia, tentu pengetahuan orang tua terkait penanganan diare pada anak harus ditingkatkan supaya dapat mencegah perburukan kondisi anak.

Terdapat lima langkah rekomendasi penanganan diare pada anak oleh Kemenkes RI yang dapat dilakukan oleh orang tua di rumah, yakni dengan “LINTAS Diare” (Lima Langkah Tuntaskan Diare).

1. Berikan Oralit Pada saat diare. Hal terpenting yang dibutuhkan adalah cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi. Pemberian cairan dapat dimulai dengan memberikan oralit dan air minum yang cukup. Bila anak sudah tidak bisa minum karena kesadaran turun atau muntah, maka orang tua harus segera membawa anak ke sarana kesehatan untuk mendapat pertolongan cairan melalui infus.

2. Berikan zinc. Zinc merupakan salah satu mineral penting dalam tubuh. Pemberian zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat keparahan diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume feses, serta menurunkan kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa zinc mempunyai efek protektif terhadap diare sebanyak 11 % (Hidayat 1998 dan Soenarto 2007). Berdasarkan bukti ini semua anak diare harus diberi zinc segera saat anak mengalami diare. Pemberian zinc selama 10 hari berturut-turut. Cara pemberian tablet zinc adalah dengan melarutkan tablet dalam 1 sendok makan air matang atau ASI.

3. Pemberian ASI/ Makanan. Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada anak agar tetap kuat dan mencegah berkurangnya berat badan. Susu, baik itu ASI maupun susu formula, harus lebih sering diberikan kepada anak. Anak usia 6 bulan atau lebih termasuk anak yang telah mendapatkan makanan padat juga diberikan makanan yang mudah dicerna dan diberikan sedikit lebih sedikit dengan frekuensi yang lebih sering. Setelah diare berhenti, pemberian makanan ekstra diteruskan selama 2 minggu untuk membantu pemulihan berat badan.

4. Pemberian antibiotik hanya atas indikasi. Antibiotik tidak boleh digunakan secara rutin karena kecilnya kejadian diare pada balita yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotik hanya bermanfaat pada penderita diare disertai darah pada feses dan dengan indikasi adanya infeksi bakteri oleh dokter.

5. Pemberian nasehat. Orang tua harus segera membawa anak ke petugas kesehatan bila mengalami gejala seperti: diare lebih sering, muntah berulang, sangat haus, lesu dan tidak sadar, makan/ minum sedikit, timbul demam, feses berdarah, dan diare tidak membaik dalam 3 hari.

Dengan menerapkan 5 langkah ini, diharapkan dapat membantu orang tua dalam penanganan diare pada anak. Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan dan makanan yang diberikan juga harus dilakukan untuk mencegah diare pada anak.


Narasumber: apt. Gidfrie Vinanda Krisha., S. Farm