Tips Memilih Obat Herbal Yang Aman

Selasa, 11 Januari 2022 296

Obat tradisional yang juga sering disebut  dengan obat herbal merupakan bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat (BPOM,2014).

Obat herbal banyak digemari masyarakat sebagai obat alternatif yang dianggap lebih aman dan tanpa efek samping. Namun, obat herbal yang beredar di pasaran masih banyak yang belum terjamin mutu dan keamanannya. Salah satu persyaratan obat herbal yang harus dipenuhi menurut PERMENKES RI No.007 Tahun 2012 pada pasal 7 adalah tidak boleh mengandung satu atau lebih bahan kimia obat (BKO). Meski sudah ada undang-undang yang mengatur tentang bahan yang dilarang, masih banyak ditemukan produk jamu yang mengandung bahan kimia obat (BKO).

Bahan kimia obat adalah kandungan zat aktif obat yang seharusnya tidak dijual bebas karena harus dengan indikasi dan resep dokter. Hal ini akan membuat obat herbal terkesan lebih manjur saat digunakan dan memberi respon manfaat yang cepat. Adanya BKO pada obat herbal dapat meningkatkan potensi efek samping dari penggunaan obat yang tidak terkontrol pada dosis serta cara penggunaannya. Anggapan bahwa obat herbal bebas dari efek samping adalah tidak benar. Obat herbal berpotensi menimbulkan efek samping apabila dikonsumsi terlalu banyak atau dalam jangka yang panjang.

Agar tetap mendapatkan manfaat dari obat herbal yang aman, berikut tips cerdas yang dapat dilakukan ketika memilih obat herbal yang akan dikonsumsi.


-     Pertama, pastikan ada nomor izin edar pada kemasan obat. Obat herbal yang diedarkan di Indonesia wajib memiliki izin edar yang diberikan oleh Kepala Badan POM. Adanya nomor izin edar akan menjamin keamanan obat herbal tersebut. Untuk mengecek keaslian nomor izin edar dapat juga ditelusuri melalui situs BPOM https://cekbpom.pom.go.id/.


-         Kedua, pastikan penggunaan obat herbal bukan dalam sediaan tetes mata, intravaginal, maupun sediaan parenteral. Obat herbal tidak menjamin sterilitas produk, sehingga tidak dapat digunakan sebagai sediaan obat yang harus steril dan isotonis, seperti tetes mata, injeksi, atau infus.


-         Ketiga, cek kadaluwarsa dan kemasan obat. Pastikan obat herbal yang akan dikonsumsi tidak melewati batas expired date (kadaluwarsa) dan dalam kemasan yang baik, seperti botol tidak menggelembung atau penyok, serta tidak bocor.


-         Keempat, baca informasi produk pada obat herbal yang tersedia pada label. Usahakan untuk mengonsumsi obat herbal sesuai petunjuk pemakaian dan tidak berlebihan. Jangan mudah terkecoh dengan klaim obat pada label kemasan yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kita perlu waspada apabila manfaat atau kerja obat herbal dirasa sedemikian cepat terjadi karena dapat dimungkinkan mengandung bahan kimia obat (BKO), sehingga perlu diawasi penggunaannya.


-         Kelima, anda dapat menanyakan kepada dokter atau apoteker apabila ingin memastikan keamanan obat dengan kondisi kesehatan masing-masing. Beberapa obat herbal harus dipantau penggunaannya secara khusus bahkan tidak boleh digunakan sama sekali apabila ada riwayat penyakit tertentu yang kontraindikasi dengan suatu bahan herbal. Selain itu, konsultasikan kepada dokter atau apoteker apabila sedang mengonsumsi obat lain agar tidak ada interaksi dan duplikasi obat antara obat herbal dan obat kimia yang sedang dikonsumsi.


Sebagai masyarakat cerdas, sebaiknya kita bijak dalam memilih obat herbal yang beredar di pasaran. Kelima tips di atas dapat diterapkan ketika ingin memilih obat herbal yang aman untuk dikonsumsi